Assalamu ‘alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلاَةُ والسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى ألِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ, أمّا بَعْدُ

Pendengar yang budiman, Senang sekali kita bisa berjumpa kembali di radio kesayangan kita ini dalam rubrik Tazkiyatun Nafs. pembahasan yang mengkaji tentang penyucian jiwa dan kesucian Hati ditinjau dari kacamata Islam untuk kita ambil hikmah dan pelajaran di dalamnya Dan Pada kesempatan yang berbahagia kali ini kita akan membahas mengenai “Agar amal tidak sia-sia”.

Pendengar, Salah satu tujuan utama dalam beramal adalah mendapat pahala dari Alloh Lantas bagaimana jika amalan yang sangat diharapkan sebagai tabungan di akherat ternyata ‘kopong’ alias sia-sia dan tak tertulis sebagai amalan?

Bagaimana mungkin amalan akan diterima tatkala kita tidak mengetahui cara agar amalan bisa diterima dan mendapat ridho dari Allah? Apalagi jika barometer kesuksesan dalam beramal tatkala mendapat pujian belaka. Tak dapat diragukan lagi walaupun lisan ini mengatakan “Aku ikhlas” namun ikhlas tak semudah hanya ucapan saja dan malahan perlu dicek lagi arti keikhlasannya. Baiklah marilah kita berusaha mengetahui kaidah-kaidah dalam beramal agar amalan kita tidak sia-sia Dan ingatlah tak ada satu detik waktupun menjadi sia-sia dan berakhir penyesalan jika segera diikuti dengan taubat dan membenahi cara beramal dengan benar.

Pendengar,  Amalan tidak lepas dari 2 hal yaitu ikhlas dan ittiba’. Ikhlas adalah niat dalam beramal dan ikhlas merupakan ruh bagi amalan. Sebagaimana Sabda Nabi .

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung dengan niat dan sesungguhnya setiap orang itu mendapatkan balasan sesuai dengan yang diniatkannya” Hadits Riwayat Bukhori dan Muslim.

Yang kedua adalah ittiba’. Iittiba’ adalah amalan hendaknya dilakukan sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rosululloh

Dan ittiba’ ini laksana jiwa bagi amalan Alloh berfirman di dalam Qur’an Surat Ali-Imron ayat 31

Artinya : “Katakanlah jika kamu benar-benar mencintai Alloh ikutilah aku, niscaya Alloh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu, Alloh maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

Pendengar, Kedua syarat tersebut jangan sampai tercecer karena jika salah satu syarat hilang maka ia tidak benar yakni bukan amal shalih dan tidak akan diterima di sisi Alloh . Diantara dalil yang memperkuat pernyataan tersebut adalah Firman Alloh di dalam Qur’an Surat Al-kahfi ayat 110 yang artinya :

Artinya : “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Robb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Robb-nya”

Pendengar, Lalu bagaimana jika tidak ikhlas namun ittiba’? Misalnya, melakukan sholat sesuai dengan rukun-rukun sholat yang telah dicontohkan Rosululloh namun di tengah perjalanan sholat tersebut ada orang yang melihat dan hati timbul rasa ingin memperbagus gerakan memperlama waktu sholat dan lain sebagainya. Nah inilah perlu dipertanyakan keikhlasan sholatnya, Apakah sholat hanya mengharap wajah Alloh ataukah disertai pula mengharap pujian orang lain?

Lantas bagaimana jika ikhlas namun tidak ittiba’? Misalnya mencari berkah dikuburan mengkhususkan membaca surat yasin selama 7 hari setelah kematian

Mungkin mereka ikhlas melakukannya namun sayangnya tidak ada contoh dari Rosululloh dan perbuatan tersebut bisa dikatakan bid’ah yakni perkara yang baru dalam agama.

Pendengar, Perlu kita ketahui bersama bahwa hendaknya dalam beramal selain mengetahui syarat-syarat beramal juga mengetahui bagaimana caranya agar dapat mewujudkan syarat-syarat tersebut dengan mudah.

Untuk mewujudkan keikhlasan dalam beramal ada beberapa cara yaitu :

Yang pertama, Berdo’alah agar setiap amalan ikhlas karena Alloh. Sebagai manusia tak lepas dari riya’ pamer dan suka dipuji. Kholifah besar seperti ‘Umar Ibnul Khoththob yang merupakan shahabat Rosul dan sudah dijanjikan surga kepadanya  pun masih saja berdoa agar ikhlas dalam beramal. Beliau berdo’a “Ya Alloh jadikanlah amalku shalih semuanya dan jadikanlah ia ikhlas karena-Mu dan janganlah Engkau jadikan untuk seseorang dari amal itu sedikitpun”

Yang kedua, Menyembunyikan amal. Sembunyikan amal seperti menyembunyikan keburukan, seperti perkataan Bisyr Ibnul Harits “Jangan kau beramal supaya dikenang, Sembunyikanlah kebaikanmu seperti kamu menyembunyikan kejelekanmu”

Yang ketiga, Memperhatikan amalan orang lain yang lebih baik. Bisa dengan membaca biografi-biografi dari para shahabat, tabi’in serta orang-orang terdahulu, sebagai suri teladan dalam beramal. Karena hidup di jaman sekarang ini terkadang dari penampakan terlihat bagus dan banyak yang meneladani, namun ternyata amalan-amalan bid’ah yang dilakukannya. Na’udzubillahi min dzalik

Dan yang keempat, Memandang remeh apa yang telah diamalkan. pendengar, Terkadang manusia terjebak dengan godaan setan yaitu melakukan sedikit amal dan merasa kagum dengan sedikit amal tersebut Dan akibatnya bisa fatal karena bisa jadi satu amal kebaikan bisa memasukkan manusia ke neraka. Seperti perkataan Sa’d bin Jubair “Ada seseorang yang masuk surga karena sebuah kemaksiatan yang dilakukannya dan ada yang masuk neraka karena sebuah kebaikan yang dilakukannya. Seseorang yang melakukan maksiat setelah itu ia takut dan cemas terhadap siksa Alloh karena dosanya kemudian menghadap Alloh dan Alloh mengampuninya karena rasa takutnya kepada-Nya dan seseorang berbuat suatu kebaikan lalu ia senantiasa mengaguminya kemudian ia pun menghadap Alloh dengan sikapnya itu, maka Alloh pun mencampakkannya ke dalam neraka.

Pendengar yang budiman, Demikianlah pembahasan kita pada edisi kali ini insya Alloh kita akan kembali melanjutkan pembahasan ini pada edisi yang akan datang. Mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran dan hikmahnya. Semoga Alloh selalu menerima setiap amal shalih yang kita kerjakan dan juga Alloh ‘Azza wa Jalla menanamkan dalam hati kita keikhlasan dalam setiap beramal karenaNya. Aamiin…. Semoga bermanfaat, Wallohu a’lam.

Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh