Assalamu‘alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh…

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلاَةُ والسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى ألِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ أمّا بَعْدُ:

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh Alhamdulillah pada kesempatan yang berbahagia kali ini Alloh masih memberikan curahan nikmat-Nya kepada kita untuk bisa kembali menambah ilmu pengetahuan keislaman kita Dan pada Rubrik Tazkiyyatun nafs edisi kali ini kita masih akan membahas tema tentang Hakikat Cinta kepada Alloh yaitu melanjutkan pembahasan pada edisi sebelumnya mudah-mudahan kita bisa mengambil faidah dalam pembahasan ini.

Pembaca yang budiman Cinta kepada Alloh dapat mengusir dari dalam hati segala bentuk kecintaan kepada apa saja yang tidak disenangi Alloh. Organ-organ tubuh dengan dorongan kecintaan kepada Alloh akan tergugah untuk beribadah kepada-Nya dan jiwa menjadi tenteram karenanya.

Hal ini sebagaimana firman Alloh dalam hadis qudsi:

فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا

Yang artinya: “Jika Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengarannya yang dia gunakan mendengar penglihatannya yang dia gunakan melihat tangannya yang dia gunakan memukul dan kakinya yang digunakan berjalan.”

Pembaca. Seseorang yang sedang mencintai karena keasyikan dan kelezatan cintanya ia akan melupakan segala derita cobaan tidak terasa baginya kepedihan yang dirasakan orang lain. terlebih Cinta kepada Alloh hendaknya menjadi kekuatan yang sangat kuat untuk mendorong seseorang mampu bertahan untuk tidak melanggar dan mendurhakai Alloh.

Semakin kuat dorongan cinta dalam hati seseorang maka akan semakin kuat pula dorongan untuk melaksanakan ketaatan serta menghindari kemaksiatan dan pelanggaran. Sebab kemaksiatan dan pelanggaran hanya terjadi akibat lemahnya dorongan cinta dalam diri seseorang.

Jika cinta itu disertai sikap pengagungan dan rasa hormat maka akan melahirkan rasa malu berikut ketaatan. Namun jika kosong dari sikap pengagungan dan rasa hormat maka cinta model itu hanya membuahkan semacam kemesraan kepuasan keharuan dan kerinduan belaka. Itulah sebabnya mengapa pengaruh positif cinta tersebut terkadang tidak ada. itu karena rasa cinta kepada Alloh yang tidak mendorong dirinya untuk meninggalkan kemaksiatan kepada Alloh.

Sebabnya adalah kehampaan cinta tersebut dari sikap pengagungan dan rasa hormat. Padahal tidak ada sesuatu yang mampu memakmurkan hati yang setara dengan cinta yang disertai sikap pengagungan dan rasa hormat. Itulah anugerah Alloh yang paling besar dan paling utama bagi seorang hamba dan itu pula karunia Alloh yang Dia berikan kepada orang yang dikehendaki-Nya.
Cinta yang hampa dari sikap ketundukan dan kerendahan hati sesungguhnya hanyalah pengakuan cinta yang tidak bermutu. Sama seperti orang yang mengaku dirinya cinta kepada Alloh tetapi tidak mau melaksanakan perintah Alloh dan tidak patuh kepada sunnah Nabi-Nya Muhammad tidak meneladaninya dalam ucapan perbuatan dan amal ibadah.

Tidak disebut cinta kepada Alloh dan tidak pantas mengaku cinta kepada Alloh orang yang tidak meneladani Rosululloh . Oleh karena itu Alloh menceritakan tentang ucapan orang-orang Yahudi dan Nasrani dalam firman-Nya di Quran surat Al-Maidah ayat 18

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Alloh dan kekasih-kekasih-Nya”.
Jika hanya pengakuan semata tanpa bukti nyata semua orang pun bisa berbuat seperti itu.

Di sinilah Alloh memadamkan seluruh pengakuan dan menyingkap kedok kepalsuannya dalam firmanNya di Quran surat Ali-Imron ayat 31

Yang artinya: “Katakanlah wahai Rosululloh kepada mereka jika kalian benar mencintai Alloh maka ikutilah aku yakni Rosul niscaya Alloh akan mencintai kalian dan memaafkan dosa-dosa kalian dan Alloh maha pengampun lagi penyayang.”

Dan diantara indikasi cinta kepada Alloh adalah mencintai orang-orang yang taat kepada Alloh loyal kepada wali-wali Alloh dan memusuhi orang-orang yang membangkang kepada Alloh berjihad melawan musuh-musuh-Nya dan menolong para penolong-Nya. Semakin kuat kecintaan hamba kepada Alloh maka semakin kuat pula praktik amal-amalnya.

Pembaca yang budiman Dalam masalah cinta ini ada empat bentuk yang harus dibedakan satu dengan yang lainnya.

Yang Pertama Kecintaan kepada Alloh. Kecintaan ini semata tidak cukup untuk menyelamatkan seseorang dari azab Alloh dan meraih ganjaran dari pada-Nya. Karena kaum musyrikin para penyembah salib kaum yahudi dan yang lainnya juga mencintai Alloh.

Kemudian yang Kedua Mencintai apa yang dicintai oleh Alloh dan kecintaan inilah yang memasukan seseorang ke dalam Islam dan mengeluarkannya dari kekufuran. Sedangkan orang yang paling dicintai oleh Alloh adalah yang paling mampu mengaplikasikan kecintaan ini dan yang paling konsisten menjalankannya.

Selanjutnya yang ketiga Cinta di jalan Alloh dan karena Alloh. Maka inilah konsekuensi dari mencintai apa yang dicintai oleh Alloh yang mana tidak akan lurus kecintaan apa yang dicintai oleh Alloh kecuali melalui cinta di jalan-Nya dan karenaNya.

Dan yang keempat Mencintai selain Alloh di samping cinta kepada Alloh. Inilah cinta kesyirikan. Maka semua yang mencintai sesuatu yang lain bersamaan dengan kecintaan kepada Alloh bukan karena Alloh dan bukan juga di jalan Alloh maka ia telah menjadikannya sebagai partner atau tandingan bagi Alloh. Inilah bentuk kecintaan kaum musyrikin.

Dalam Quran surat Al Baqoroh ayat 165 Alloh berfirman

Yang artinya: “dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Alloh mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Alloh”.

Pembaca yang dirahmati Alloh Demikianlah penjelasan singkat terkait Hakikat Cinta Kepada Alloh yang bisa kita kaji dalam Rubrik Tazkiyatun nafs edisi kali ini. Semoga Alloh menganugrahkan rasa Cinta yang benar kepada kita dalam mencintai Alloh dan Rosul-Nya serta dalam mencintai orang mencintai Alloh dan semoga Alloh membimbingkita kepada amal yang membawa kita untuk mencinta Alloh dan RosulNya. Aamiin.

Wallohu a’lam, Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.