Sahabat hijrah yang berbahagia, Islam tidak melihat hubungan persaudaraan sebatas pada hubungan darah atau keturunan, tetapi lebih pada aqidah atau keyakinan. Oleh karena itulah, ketika Rasulullah dan para sahabat hijrah ke madinah, Rasulullah langsung mempersaudarakan antara muhajirin dengan kaum anshor, yakni pribumi tanah yatsrib atau madinah.

Bahkan kaum anshor sangat mengutamakan kaum muhajirin yang datang ke negeri mereka. sampai-sampai mereka menawarkan setengah dari hartanya, bahkan menawarkan salah satu diantara istri mereka, yakni mereka hendak menceraikannya supaya dinikahi oleh saudaranya.

Nah, Langkah mempersaudarakan antara kaum muhajirin dan anshor ini terbukti efektif untuk menguatkan persatuan dan kesatuan umat Islam, sehingga tradisi lama di mana antar satu kabilah dengan kabilah lain sering terlibat konflik bahkan peperangan, sudah lenyap dalam tradisi masyarakat Muslim di Madinah kala itu,

Sahabat, Siapa pun dan dari suku mana pun, mampu hidup berdampingan dan saling berkasih sayang atas dasar aqidah. Hal ini dikarenakan dalam Islam, kebaikan seorang Muslim tidak semata-mata diukur dari ketaatannya dalam beribadah, tetapi juga kesholehannya dalam pergaulan sehari-hari.

Sahabat, Suatu ketika ada seseorang yang bertanya kepada Nabi ,

أَىُّ الإِسْلاَمِ خَيْرٌ

“Bagaimanakah Islam yang paling baik itu?.” Beliau menjawab,

 تُطْعِمُ الطَّعَامَ ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ ، وَعَلَى مَنْ لَمْ تَعْرِفْ

“Hendaklah engkau memberi makan, mengucapkan salam kepada siapa pun yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal.” Hadits riwayat Bukhori.

Dalam hadits yang lain, Rasulullah bersabda yang artinya.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، أَفْشُوْا السَّلَامَ ، وَأَطْعِمُوْا الطَّعَامَ ، وَصِلُوْا الْأَرْحَامَ ، وَصَلُّوْا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ ، تَدْخُلُوْا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

 “Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, sambunglah tali persaudaraan, shalatlah pada malam hari ketika semua orang sedang tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan damai.” hadits riwayat Imam Tirmidzi.

Nah sahabat, artinya, sesama Muslim itu harus saling peduli, saling bantu dan tentunya saling berkasih sayang, sehingga eksistensi umat Islam benar-benar tampil sebagai khayru ummah atau ummat terbaik.

Bahkan sahabat, Imam Ibnu Katsir mengatakan dalam kitab tafsirnya bahwa semua orang beriman itu bersaudara dalam agama, mereka saling tolong menolong atas nama agama, mencintai atas nama agama,  Bahkan sahabat, persaudaraan agama lebih agung dan lebih kuat daripada persaudaraan keluarga dan nasab.

Secara tabiat, orang yang bersaudara itu saling mencintai dan mengasihi, Orang yang memiliki hubungan persaudaraan itu pasti menyayangi dan mencintai dengan ikhlas saudaranya.

Cobalah kita perhatikan, binatang saja saling mencintai dan saling berkumpul dengan sesama saudaranya atau sesama kelompoknya, apalagi kita sebagai manusia, Kita hendaknya menjadikan ikatan aqidah islam yang kuat sebagai ikatan persaudaraan, sehingga tidak mudah saling menghujat, mencaci dan merendahkan kehormatan sesama muslim.

Rasulullah tidak hanya menunjukan apa yang harus dilakukan oleh setiap muslim, tapi Rasulullah juga menerangkan tentang apa-apa yang harus dijauhi oleh setiap muslim. Termasuk dalam perkara hubungan antara sesama.

Sahabat hijrah, Ada beberapa pantangan yang harus kita perhatikan dalam bergaul antara sesama muslim.

Apa aja itu?

Yang pertama, hilangkan rasa benci antara sesama manusia, khususnya antara sesama muslim.

Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah bersabda. “Janganlah kalian saling membenci, janganlah saling mendengki, janganlah saling bermusuhan, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara, dan seorang Muslim tidak diperbolehkan mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.” Hadits riwayat Bukhori.

Kemudian yang kedua, jauhi sikap dzalim.

Rasulullah bersabda yang artinya.

“Orang Muslim itu adalah saudara bagi Muslim lainnya, tidak menzalimi dan tidak menelantarkannya. Barangsiapa memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah memenuhi kebutuhannya. Barangsiapa menyingkirkan dari saudaranya satu kesusahan maka Allah akan menyingkirkan darinya satu kesusahan dari berbagai macam kesusahan hari akhirat. Barangsiapa menutupi aib orang Muslim maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat.” hadits riwayat Imam Bukhori dan Imam Muslim.

Kemudian yang ketiga, tidak mencaci maki antara sesama.

Rasulullah bersabda yang artinya.

“Mencaci orang Mukmin itu adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekafiran.” Hadits riwayat Bukhari.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa seorang Muslim terhadap Muslim lainnya harus saling berkasih sayang, peduli dan tidak menzaliminya.

Sahabat hijrah, persaudaraan antara sesama muslim adalah persaudaraan yang kuat, lebih kuat dari persaudaraan karena pertalian darah. Persaudaraan juga melahirkan sifat saling menyayangi, melindungi dan memberi prioritas terhadap kepentingan saudaranya.

Rasa kasih sayang adalah rahmat dari Allah yang diletakan di hati orang-orang beriman, sehingga diantara sesama orang beriman akan saling menyayangi.

Oleh karena itu, Allah akan menyayangi orang-orang yang memiliki sifat penyayang.

Rasulullah bersabda.

إِنَّمَا يَرْحَمُ اللهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ

Sesungguhnya Allah hanya menyayangi hamba-hambaNya yang penyayang. Hadits riwayat Thobroni.

Rasulullah juga bersabda.

الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَانُ، اِرْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

Para pengasih dan penyayang dikasihi dan di sayang oleh Ar-Rahmaan , sayangilah apa yang ada di bumi niscaya kalian akan dirahmati oleh Dzat yang ada di langit.” Hadits riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi.

Demikian sahabat pemaparan tentang arti penting kasih sayang dalam persaudaraan. Semoga Allah menguatkan ikatan persaudaraan diantara kita, sehingga kita menjadi sahabat yang abadi, sahabat dunia akhirat, insya Allah.

Semoga bermanfaat.

Wassalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh.