Mahkamah Agung India pada Selasa membatalkan aturan yang melarang kegiatan besar termasuk shalat jamaah di sebuah masjid terkenal di India utara. Aturan yang hanya membolehkan masjid dihadiri 20 orang dibuat setelah tim survei mengklaim mereka menemukan peninggalan dewa Hindu siwa dan simbol Hindu lainnya di sana.

Mahkamah Agung India dalam perintah sementara-nya menyatakan hak Muslim untuk beribadah tidak boleh diganggu, dan secara bersamaan area di mana peninggalan agama Hindu ditemukan harus dilindungi.

Ketidaksepakatan atas hak untuk beribadah di masjid itu menyusul kampanye selama puluhan tahun oleh para aktivis Hindu yang mengatakan bahwa tempat ibadah itu dibangun di atas reruntuhan kuil.

Perintah Mahkamah Agung datang sehari setelah pengadilan lokal di Varanasi – kota tersuci Hindu dan tempat masjid bersejarah Gyanvapi berada – memutuskan kegiatan umat islam di Masjid harus dibatasi hingga 20 orang.

Pengadilan setempat telah memerintahkan survei masjid setelah lima wanita meminta izin untuk melakukan ritual Hindu di salah satu bagiannya, mereka mengklaim sebuah kuil Hindu pernah berdiri di situs tersebut.

Masjid Gyanvapi, yang terletak di daerah pemilihan Perdana Menteri Narendra Modi, adalah salah satu dari beberapa masjid di Uttar Pradesh utara yang diklaim oleh sebagian umat Hindu dibangun di atas kuil-kuil Hindu yang dihancurkan.

Kelompok-kelompok Hindu garis keras yang terkait dengan Partai Bharatiya Janata Party telah meningkatkan tuntutan untuk menggali di beberapa bagian masjid. Hakim pengadilan tinggi akan melanjutkan sidang dari para pemohon Hindu dan Muslim minggu ini.

Para pemimpin Muslim di India melihat survei di dalam masjid sebagai upaya untuk merusak hak mereka untuk beribadah. (hidayatullah.com/admin)