Sahabat hijrah, Apakah sahabat pernah mendengar istilah Al-Ishlah?. Al-Ishlah sering diartikan dengan “perbaikan” atau “memperbaiki”. Jika kita menengok pada tujuan utama dari dakwah para nabi, maka sejarah membuktikan bahwa tujuan mereka adalah Al-Ishlah, atau memperbaiki kondisi umat. Seperti perkataan Nabi Sholeh yang diabadikan dalam Al-Qur’an surat Huud ayat 88

إِنْ أُرِيدُ إِلاَّ الإِصْلاَحَ مَا اسْتَطَعْتُ

Aku hanya bermaksud melakukan perbaikan semampuku.

Nabi Sholeh ingin memfokuskan bahwa tujuan dari jerih payah dan usahanya selama ini hanya untuk memperbaiki kondisi umat manusia, semampunya.  Dan seluruh nabi pun punya tujuan yang sama. Dan kali ini, kita akan mencoba mendalami makna Al-Ishlah.

Sahabat hijrah, Kata Al-Ishlah sering digunakan dalam Al-Qur’an. adapun makna ishlah artinya adalah mendamaikan 2 orang atau kelompok yang berselisih.

Berkaitan dengan hal ini, Allah berfirman di dalam quran surat al-hujurat ayat 9.

وَإِن طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا

Dan apabila ada dua golongan orang Mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya.”

Kemudian juga bisa berarti mendamaikan secara umum, hal ini sebagaimana disebutkan di dalam Quran surat al-Anfal ayat 1.

فَاتَّقُواْ اللّهَ وَأَصْلِحُواْ ذَاتَ بِيْنِكُمْ

Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu.

Nah sahabat, ayat ini sangat menarik sekali. kenapa dikatakan menarik?. Ayat ini menarik karena menempatkan memperbaiki hubungan antara sesama setelah ketakwaan. Ayat ini seakan ingin berbicara bahwa tak ada artinya takwa tanpa kepedulian kepada kondisi sekitar kita.  Tak ada artinya takwa tanpa rasa peduli untuk mendamaikan saudara yang berselisih.

Hal inilah yang kemudian Allah firmankan di dalam quran surat al-Hujurat ayat 10.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu yang berselisih, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”

Akan tetapi sahabat, ada sebagian manusia yang justru lebih senang berselisih. Semakin hari rasa kepedulian ini semakin pudar. Orang-orang sibuk dengan urusannya masing-masing dan acuh dengan kondisi sekitarnya. Walaupun ada yang memang tidak mampu untuk mendamaikan, ada pula yang tidak mau.

Bahkan akhir-akhir ini semakin banyak orang yang tidak mendamaikan perselisihan tapi malah membakar api provokasi dan memecah belah saudaranya sendiri. Padahal menurut Al-Qur’an tidak ada kebaikan dalam perkataan rahasia alias bisik-bisik yang dilakukan manusia kecuali dalam 3 pembicaraan saja.

Hal ini Allah firmankan di dalam quran surat an-Nisa ayat 114.

لاَّ خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَاهُمْ إِلاَّ مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاَحٍ بَيْنَ النَّاسِ

Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh orang bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.

Sahabat hijrah, Mendamaikan perselisihan termasuk sesuatu yang sangat ditekankan dalam Islam. Tentu kebalikan dari mendamaikan ini punya bahaya dan ancaman yang begitu besar pula. diantara bentuk memecah belah adalah mengadu domba atau memprovokasi.

Sahabat,  Jangan pernah pesimis ketika ingin mendamaikan orang yang berselisih, karena Allah tidak pernah menanyakan “berhasil atau tidak?.”, tapi yang akan ditanyakan adalah “kenapa tidak menyampaikan?, kenapa tidak berusaha mendamaikan?.”

Sahabat hijrah, Kita semua tau bahwa bohong itu haram dan pembohong itu terlaknat. Tapi khusus dalam masalah mendamaikan orang, kebohongan itu diizinkan. Misalkan kita berbohong kepada orang yang berselisih bahwa “musuhnya” tadi memujinya dan ingin memperbaiki hubungan dengannya. Kebohongan macam ini diperbolehkan dalam Islam, bahkan mungkin dianjurkan.

Namun kenyataannya, kebohongan itu sering digunakan untuk adu domba dan memecah belah masyarakat. Fitnah disebar untuk merusak keharmonisan umat.

Sahabat hijrah, Mendamaikan orang yang berselisih bukanlah perkara kecil. Perbuatan ini amat agung di Sisi Allah , Rasul pun sering bersabda tentang pahala mendamaikan perselisihan.

Kira-kira sebesar apa pahala mendamaikan perselisihan?.

Dalam sebuah riwayat, dikisahkan bahwa salah satu sahabat Rasulullah yaitu Abu Darda pernah berkata kepada para sahabatnya yang lain.

“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang suatu amalan yang lebih utama dibandingkan dengan sedekah dan menjalankan ibadah puasa?.”

Mendengar perkataan salah satu sahabat Nabi tersebut, sontak para sahabat langsung serentak mengatakan bahwa mereka mau mengetahui perihal apa yang nilainya jauh lebih utama dari ibadah Puasa dan juga Sedekah.

Beberapa saat kemudian Abu Darda segera melanjutkan perkataannya “yaitu mendamaikan di antara yang tengah berselisih, karena kebencian merupakan penghalang dari mendapatkan pahala.”

Perkataan Abu Darda tersebut juga dilandasi oleh salah satu hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi yang artinya. “Maukah aku beritahukan kepada kalian suatu amalan yang lebih utama dari derajat mereka yang berpuasa, shalat, dan bersedekah?.”

Para sahabat pun langsung menjawab “Tentu wahai Rasulullah.”

Rasul pun segera melanjutkan perkataannya. “yaitu mendamaikan seseorang yang berselisih. Karena sesungguhnya kerusakan dari perselisihan adalah terhalanginya seseorang dari mendapatkan pahala.”

Sahabat hijrah, Mungkin kita akan merasa aneh mendengar hadits tersebut,  bagaimana usaha mendamaikan itu dapat lebih utama atau afdhol dari solat ?. Bukankah solat itu tiang agama?.

Jangan merasa heran dengan hal ini. karena Salah satu tujuan dari ibadah adalah menjadikan manusia berakhlak dan menumbuhkan kepedulian antar sesama. Apa artinya ibadah jika acuh dengan kondisi sekitarnya?.

Sahabat hijrah, perlu diketahui bahwa seorang yang acuh melihat perselisihan disekitarnya adalah tipe orang yang tidak pernah mengharapkan kebaikan bagi orang lain. Rasa kepeduliannya telah mati dan jiwa kemanusiaannya telah pudar.

Di waktu yang lain, Imam Ja’far As-Shodiq yakni Guru dari Imam Maliki dan Hanafi, pernah berkata kepada murid-muridnya.“Maukah kalian aku tunjukkan sedekah yang dicintai Allah dan Rasul-Nya?.”

Mereka menjawab, “Iya…”

Imam pun berkata, Mendamaikan sesama jika mereka berselisih, dan mendekatkan mereka jika saling menjauh.”

Riwayat lain juga menyebutkan bahwa beliau sering menitipkan sejumlah uang kepada murid-muridnya. Mereka pun bertanya. “untuk apa ini ya imam?.”

Beliau pun menjawab. “Untuk persiapan jika ada yang berselisih, damaikan dengan uang ini.”

Akhir kalam, semoga kita menjadi pembela-pembela islam yang mengedepankan ukhuwah dan mengobati perpecahan dan perselisihan diantara sesama umat islam, khususnya generasi muda kita.

Semoga bermanfaat.

Wassalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh.