الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلاَةُ والسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى ألِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ, أمّا بَعْدُ

Pembaca yang dirahmati Alloh. Alhamdulillah, kita dapat berjumpa kembali pada kesempatan ini, dalam rangka meningkatkan keilmuan dan keimanan kita, terhadap agama Alloh . Kita akan menyimak kisah seorang shohabiyah mulia, yang sangat bertakwa, dan lebih mengutamakan keridhoan Alloh dan Rosul-Nya di atas yang lainnya, Shohabiyah mulia ini bernama Ummu Sulaim .

Sejarah telah berbicara tentang berbagai kisah yang bisa kita jadikan pelajaran dalam menapaki kehidupan. Sejarah pun mencatat perjalanan hidup para wanita muslimah yang teguh dan setia di atas keislamannya. Mereka adalah wanita yang kisahnya terukir di hati orang-orang beriman, yang keterikatan hati mereka kepada Islam lebih kuat, daripada keterikatan hatinya terhadap kenikmatan dunia. Salah satu diantara mereka adalah Rumaisho’ , atau yang lebih terkenal dengan kuniyah Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin Adi bin Najar Al-Anshariyah Al-Khazrajiyah.

Pembaca yang dirahmati Alloh. Ummu Sulaim adalah ibu dari Anas bin Malik , salah seorang sahabat Rasulullah , yang terkenal dengan keilmuannya dalam masalah agama.

Selain itu, Ummu Sulaim adalah salah seorang wanita muslimah, yang dikabarkan masuk surga oleh Rasulullah . Beliau termasuk golongan pertama yang masuk Islam dari kalangan Anshar, yang telah teruji keimanannya di dalam Islam. Kemarahan suaminya yang masih kafir, tidak menjadikannya gentar dalam mempertahankan aqidahnya. Keteguhannya di atas kebenaran menuai perceraian dengan suaminya. Namun, kesendiriannya dalam mempertahankan keimanan bersama seorang putranya justru berbuah kesabaran, sehingga keduanya menjadi bahan pembicaraan orang yang takjub dan bangga dengan ketabahannya.

Kesabaran dan ketabahan Ummu Sulaim telah menyemikan perasaan cinta di hati Abu Thalhah yang saat itu masih kafir. Abu Thalhah memberanikan diri untuk melamar Ummu Sulaim dengan tawaran mahar yang tinggi. Namun, Ummu Sulaim menyatakan bahwa ia tidak tertarik terhadap gemerlapnya pesona dunia yang ditawarkan oleh Abu Thalhah . Di dalam sebuah hadits riwayat Nasa’i, yang sanadnya shahih dan memiliki banyak jalan, terdapat pernyataan Ummu Sulaim ketika menolak lamaran Abu Tholhah . Ummu Sulaim berkata, “Demi Allah, orang seperti anda tidak layak untuk ditolak, hanya saja engkau adalah seorang kafir, sedangkan aku adalah seorang muslimah, sehingga tidak halal untuk menikah denganmu. Jika kamu mau masuk Islam maka itulah mahar bagiku dan aku tidak meminta selain dari itu.” Lalu akhirnya menikahlah Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah dengan mahar yang sangat mulia, yaitu masuk Islamnya Abu Tholhah .

Pembaca yang dirahmati Alloh. Kisah ini memberi kita sebuah pelajaran, bahwa mahar pernikahan tidak selalu identik dengan uang, emas, atau segala sesuatu yang bersifat keduniaan. Namun, mahar bisa berupa apapun yang bernilai dan diridhoi istri, selama bukan perkara yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya . Sesuatu yang perlu diketahui oleh kaum Muslimah, berdasarkan hadits dari Anas yang diriwayatkan oleh Imam An-Nasa’i/ bahwa Rasulullah bersabda, “Aku belum pernah mendengar seorang wanita pun yang lebih mulia maharnya dari Ummu Sulaim, karena maharnya adalah Islam.” yaitu keislaman Abu Tholhah .

Begitu pula dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Imam Ahmad, Rasulullah melarang kaum Muslimah untuk bermahal-mahal dalam mengajukan mahar kepada laki-laki Muslim yang meminangnya. Yaitu di antaranya dalam sabda beliau adalah: “Di antara kebaikan seorang wanita ialah memudahkan maharnya dan memudahkan rahimnya.” dan “Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya.”

Demikianlahlah kisah shohabiyah mulia Ummu Sulaim . Semoga pelajaran agung yang telah diwariskannya dapat menjadi acuan bagi wanita muslimah masa kini, sehingga kaum Muslimah tidak keliru dalam memaknai mahar dalam pernikahan, juga tidak keliru dalam memilih sang Imam dalam kehidupan. Karena pada hakikatnya tugas seorang suami bukan hanya menafkahi seorang istri, tapi peran yang lebih besarnya adalah menjadi seorang pemimpin, yang dapat memimpin istri dan anak-anaknya menuju surga. Itulah tugas seorang suami di dalam agama Islam.

Maka hendaklah seorang wanita Muslimah tidak sudi dengan ajakan nikah dari seorang non Muslim. Karena setampan apapun, dan sekaya apapun seorang laki-laki non Muslim, dia tidak akan pernah bisa memberikan kebahagiaan hakiki. Hendaklah seorang Muslimah lebih mengutamakan keridhoan Alloh dan Rosul-Nya. yaitu menikah dengan seorang Muslim yang teguh di jalan Islam, walaupun seorang laki-laki itu ada beberapa kekurangan, baik dalam harta ataupun fisik. Sungguh laki-laki seperti ini jauh lebih baik dari pada laki-laki non Muslim. Dan hendaklah seorang wanita Muslimah mempermudah, ketika mengajukan mahar kepada seorang laki-laki Muslim yang melamarnya.

Semoga Alloh senantiasa membimbing kita semua untuk tetap teguh berada di jalannya. Aamiin Ya Robbal ‘Aalamiin. Semoga bermanfaat, Insya Alloh kita akan berjumpa kembali pada edisi Wanita Islami selanjutnya. Wallohu a’lam.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.