الْحَمْدُ لله، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَعَلَى أله وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ:

Pembaca yang dirahmati Alloh. Alhamdulillah kita dapat berjumpa kembali pada kesempatan ini dalam rangka meningkatkan keilmuan dan keimanan kita terhadap agama Alloh ‘azza wa Jalla Judul yang akan kita bahas dalam Artikel “Wanita Islami” pada kesempatan ini adalah “Mengenal Al-Khonsa ; Ibunda para Syuhada”.

Pembaca yang dirahmati Alloh. Tumadhar binti ‘Amr atau yang dikenal dengan Al-Khonsa adalah seorang sahabat wanita yang mulia dan sangat terkenal dengan syair-syairnya yang berisi kenangan kepada orang-orang tercinta yang telah tiada. Terutama kepada kedua orang saudara lelakinya yaitu Muawiyah dan Sakhr yang telah meninggal dunia. Selain itu ia dikenal sebagai ibu para syuhada karena telah berhasil mendidik keempat putranya menjadi syuhada di medan Perang Qodisiyah. Al-Khonsa sendiri berarti “kijang” dalam bahasa arab.

Al-Khonsa menikah dengan Rawahah bin Abdul Azis As-Sulami. Dari pernikahan itu ia dikaruniai empat orang anak laki-laki di antaranya adalah Yazid Mu’awiyah ‘Amr dan ‘Amrah semuanya memeluk Islam.

Al-Khonsa masuk Islam di saat datang kepada Rosululloh bersama dengan Bani Syulaim. Semua pakar keilmuan telah sepakat bahwa tak ada seorang wanita pun baik sebelum Al-Khonsa’ maupun sesudahnya yang dapat menandingi kepiawaiannya dan bersyair.

 

Ia dinobatkan sebagai penyair paling mahir di Arab secara mutlak.

Dan setelah ia masuk Islam ia pun berujar “dulu aku menangisi kehidupanku namun sekarang aku menangis karena takut akan siksa neraka.” Keempat anaknya pernah diberi hadiah oleh Umar bin Khathab masing-masing dari mereka sebanyak 400 dirham.

Keadaannya berubah total setelah ia masuk Islam ujian yang dialaminya menjadi kesabaran yang didasari iman dan dihiasi oleh takwa hingga ia tidak lagi merasa sedih ketika kehilangan apa pun dari kenikmatan duniawi ini.

Ketika Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani berangkat ke Qodisiyah di masa kekholifahan Umar bin Khattab Al-Khonsa’ turut berangkat bersama keempat puteranya untuk menyertai pasukan tersebut.

Empat putera kandung Al-Khonsa’ bergabung dengan pasukan muslim yang ditugaskan menyerang Qodisiyah. Sehari sebelum perang Al-Khonsa’ menyampaikan beberapa wasiat kepada putera-puteranya

“Hai Putra-putraku kalian semua telah memeluk Islam dengan suka rela dan berhijrah dengan senang hati. Demi Alloh yang tidak ada Tuhan selain Dia sesungguhnya kalian adalah keturunan dari satu ayah dan satu ibu. Aku tidak pernah merendahkan kehormatan dan merubah garis keturunan kalian. Ketahuilah sesungguhnya kehidupan akhirat jauh lebih baik daripada kehidupan dunia yang fana.

Putra-putraku sabarlah tabahlah bertahanlah dan bertakwalah kepada Allah. Semoga kalian menjadi orang-orang yang beruntung. Jika kalian melihat genderang perang telah ditabuh dan apinya telah berkobar maka terjunlah ke medan laga dan serbulah pusat kekuatan musuh pasti kalian akan meraih kemenangan dan kemuliaan di dalam kehidupan abadi dan kekal selama-lamanya”.

Keesokkan harinya mereka terjun ke medan laga dengan gagah berani. Jika ada seorang di antara mereka yang semangatnya mulai surut maka saudara-saudaranya langsung mengingatkannya dengan nasihat Ibunda mereka yang telah tua renta dengan begitu semangatnya berkobar kembali dan menyerbu musuh seperti singa yang mengamuk. Serangan-serangannya seperti siap melumat musuh-musuh-Nya. Mereka tetap berjuang dengan penuh semangat hingga satu persatu berguguran menjadi syuhada.

Ketika sang Ibunda mendengar berita kematian empat puteranya dalam hari yang sama ia menerima berita duka itu dengan penuh keimanan dan kesabaran.

“Alhamdulillah yang telah memberiku kemuliaan dengan kesyahidan mereka. Aku berharap Alloh akan mengumpulkanku dengan mereka di tempat limpahan kasih sayang-Nya” harap Al-Khonsa’ .

Pembaca yang dirahmati Alloh. Di masa jahiliyah Al-Khonsa’ memenuhi dunia dengan tangisan dan keluh kesah atas kematian saudara kandungnya Shakhr. Setelah memeluk Islam dengan luar biasa ia sanggup merelakan empat putera kandungnya sendiri untuk meraih mati syahid dalam perang Qadisiyyah.

Ia begitu tulus dan tabah dengan pengorbanan besarnya itu demi meraih anugerah menjadi penghuni surga karena Rasulullah pernah bersabda sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam An-Nasa’i dan Imam Ibnu Hibban dari Anas

“Siapa yang merelakan tiga orang putra kandungnya meninggal dunia maka dia akan masuk surga. Seorang wanita bertanya bagaimana jika hanya dua putra? Rasulullah kemudian menjawab: ‘begitu juga dua putra”.

Al-Khonsa Rodhiyallohu ‘Anha wafat pada permulaan pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan pada tahun ke-24 Hijriyah. Semoga Alloh memberikan balasan yang terbaik untuknya serta meridhoinya.

Pembaca yang dirahmati Alloh. Itulah Al-Khonsa’ . Sejarah mengenalnya sebagai Ibunda para syuhada. Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari kisah mulia ini sehingga kita menjadi hamba-hamba Alloh yang kuat dalam membela kehormatan agama dan bermental syuhada sehingga dengannya kita menjadi seorang Muslim dan Muslimah sejati yang setia memegang teguh agama Alloh serta mendakwahkannya. Dan semoga Alloh senantiasa membimbing kita untuk memiliki hati yang teguh dan taat dalam menjalankan syari’at-Nya. In syaa Alloh kita akan berjumpa kembali pada edisi selanjutnya. Wallohu a’lam.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.