الْحَمْدُ لله، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَعَلَى أله وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ

Pembaca yang dirahmati Alloh. Alhamdulillah, kita dapat berjumpa kembali pada kesempatan ini, dalam rangka meningkatkan keilmuan dan keimanan kita, terhadap agama Alloh . Judul yang akan kita bahas dalam rubrik “Wanita Islami” pada kesempatan ini, adalah “Mengenal Asy-Syifa’ binti al-Harits ”.

Pembaca yang dirahmati Alloh. Asy-Syifa’ binti al-Harits adalah salah satu sahabat Rosululloh. Nama lengkapnya adalah asy-Syifa’ binti Abdullah bin Abdi Syams bin Khalaf bin Sadad bin Abdullah bin Qirath bin Razah bin Adi bin Ka’ab al-Qurasyiyyah al-Adawiyah. Asy-Syifa’ masuk Islam sebelum hijrahnya Nabi , dan beliau termasuk muhajirin angkatan pertama dan termasuk wanita yang berba’iat kepada Rasulullah . Beliaulah yang disebutkan dalam firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Mumtahanah ayat 12:

“Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia bahwa mereka tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Pembaca yang dirahmati Alloh. Asy-Syifa’ termasuk wanita yang cerdas dan memiliki banyak keutamaan, beliau seorang ulama di antara para shohabiyah. Asy-Syifa’ menikah dengan Abu Hatsmah bin Hudzaifah bin Adi, dan Allah mengkaruniakan seorang anak kepada beliau yang bernama Sulaiman bin Abi Hatsmah.

Asy-Syifa’ dikenal sebagai guru dalam membaca dan menulis sebelum datangnya Islam, sehingga tatkala beliau masuk Islam beliau tetap memberikan pengajaran kepada wanita-wanita muslimah dengan mengharapkan ganjaran dan pahala. Oleh karena itulah, beliau disebut sebagai ‘guru wanita pertama dalam Islam’. Di antara wanita yang dididik oleh asy-Syifa’ adalah Hafshah binti Umar bin Khatthab , istri Rasulullah .

Telah diriwayatkan dalam sebuah hadis bahwa Rasulullah meminta kepada asy-Syifa’ untuk mengajarkan kepada Hafshah tentang menulis dan Ruqyah, yaitu pengobatan dengan doa-doa. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud , bahwa Asy-Syifa’ berkata, “Suatu ketika Rasulullah masuk, sedangkan saya berada di samping Hafshah, beliau bersabda: ‘Mengapa tidak engkau ajarkan kepadanya ruqyah sebagaimana engkau ajarkan kepadanya menulis.”

Sebagaimana telah dimaklumi bahwa asy-Syifa’ adalah ahli ruqyah di masa Jahiliyah, maka tatkala beliau masuk Islam dan berhijrah beliau berkata kepada Rasulullah , “Aku adalah ahli ruqyah di masa Jahliliyah dan aku ingin memperlihatkannya kepada Anda.” Lalu Nabi bersabda, “Perlihatkanlah kepadaku.” Asy-Syifa’ berkata, “Maka, aku perlihatkan cara meruqyah kepada beliau yakni meruqyah penyakit bisul.” Kemudian, Rasulullah bersabda, “Meruqyalah dengan cara tersebut dan ajarkanlah hal itu kepada Hafshah.”

Di antara yang termasuk ruqyah adalah do’a yang diriwayatkan dalam hadits riwayat Imam Abu Dawud, sebagai berikut,

سَقَمًا لاَيُغَادِرُ شِفَاءً إِلاَّشِفَاؤُكَ لاَشِفَاءَ الشَّافِي أَنْتَ اَشْفِ الْبَأْسَ اَذْهِبِ النَّاسِ رَبَّ اَللهُمَّ

Ya Allah Tuhan manusia, Yang Maha menghilangkan penyakit, sembuhkanlah, karena Engkau Maha Penyembuh, tiada yang dapat menyembuhkan selain Engkau, sembuh yang tidak terjangkiti penyakit lagi.”

Demikianlah pembaca. asy-Syifa’ telah mendapatkan bimbingan yang banyak dari Rasulullah . Sungguh asy-Syifa’ sangat mencintai Rasulullah sebagaimana kaum mukminin dan mukminat yang lain, beliau belajar dari hadis-hadis Rasulullah yang banyak tentang urusan agama. Beliau juga turut menyebarkan Islam dan memberikan nasihat kepada umat dan tidak kenal lelah untuk menjelaskan kesalahan-kesalahan. Di antara yang meriwayatkan hadits dari beliau adalah putranya, yaitu Sulaiman dan cucu-cucunya, hamba sahayanya yaitu Ishak, dan Hafshah Ummul Mukminin serta yang lain-lain.

Pada masa kekhilafahan Umar bin Khattab , Umar bin Khatthab sangat mendahulukan pendapat Asy-Syifa , serta menjaganya dan mengutamakannya. Bahkan terkadang Umar mempercayakan kepadanya dalam urusan pasar.

Begitu pula sebaliknya, asy-syifa’ juga menghormarti Umar, beliau memandangnya sebagai seorang muslim yang shadiq, memiliki suri teladan yang baik dan memperbaiki, bertakwa dan berbuat adil. Suatu ketika asy-Syifa’ melihat ada rombongan pemuda yang sedang berjalan lamban dan berbicara dengan suara lirih, beliau bertanya, “Apa ini?” Mereka menjawab, “Itu adalah ahli ibadah.” Beliau berkata:“Demi Allah, Umar adalah orang yang apabila berbicara suaranya terdengar jelas, bila berjalan melangkah dengan cepat, dan bila memukul pukulannya itu dapat mematikan.”

Asy-Syifa’ menjalani kehidupannya sepeninggal Rasulullah dengan menghormati kekhilafahan Islam, hingga beliau wafat pada tahun 20 Hijriyah. Semoga Alloh memberikan balasan yang terbaik untuknya.

Pembaca yang dirahmati Alloh. Demikianlah Asy-Syifa . Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari kisah mulia ini.

sehingga kita menjadi hamba-hamba Alloh yang selalu tegar dalam keimanan ketika Alloh menguji kita, sehingga dengannya kita menjadi seorang Muslim dan Muslimah sejati yang setia memegang teguh agama Alloh serta mendakwahkannya. Dan semoga Alloh senantiasa membimbing kita, untuk memiliki hati yang teguh dan taat dalam menjalankan syari’at-Nya. In syaa Alloh, kita akan berjumpa kembali pada edisi selanjutnya. Wallohu a’lam.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.