Sahabat hijrah yang berbahagia, Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang tidak pernah luput dari kesalahan dan dosa. Ada diantara mereka yang telah berbuat dosa, kemudian malu dengan dosa yang dilakukannya, Lalu ia bertaubat kepada Allah dengan penyesalan. Namun tidak jarang kesalahan tersebut diketahui oleh orang lain, sementara si pendosa malu dan tidak berniat menyebarkan aibnya.

Dan sayangnya, tidak semua orang bisa menyimpan rahasia mengenai aib yang dilakukan oleh orang lain dengan baik. Bahkan di antara mereka ada yang menjadikan aib orang lain sebagai bahan pembicaraan ketika berkumpul atau biasa dikenal dengan bergosip.

Padahal di dalam ajaran Islam, kita tidak diperbolehkan untuk membuka aib orang lain. Kita dianjurkan sebisa mungkin untuk menutup aib sesama saudara. Bahkan sahabat, akan ada keutamaan yang didapat jika kita mau menutupi aib orang lain.

Nah sahabat, tentunya penasaran kan, keutamaan apa aja yang diperoleh ketika kita bisa menjaga diri dari menyebarkan aib orang lain.

Yang pertama, ketika kita bisa menutupi aib sesama saudara, maka aib kita dijamin akan ditutupi oleh Allah di akhirat kelak.

Hal ini sesuai dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang artinya.

“Tidaklah seseorang menutupi aib orang lain di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat kelak.

Nah sahabat, begitupun kebalikannya. Jika kita mudah sekali mengumbar aib-aib saudara kita, maka Allah pun akan mempertontonkan aib kita di akhirat kelak di hadapan semua manusia.bahkan hingga urusan rumah tangga sekalipun. ngeri kan.

Makanya, Rasulullah bersabda yang artinya.

“Barang siapa yang menutupi aib saudaranya yang muslim, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat, dan barang siapa mengumbar aib saudaranya yang muslim, maka Allah akan mengumbar aibnya hingga terbukalah kejelekannya ketika ia di dalam rumahnya.

Haditr riwayat Ibnu Majah.

Kemudian keutamaan yang kedua. Allah juga akan menutup aibnya di dunia, selama dia tidak mengumbar aib saudaranya.

Sahabat hijrah, Tidak hanya mendapat keutamaan ketika di akhirat kelak, ternyata keutamaan menutupi aib orang lain juga akan diperoleh ketika ia masih hidup di dunia.

Rasulullah -saws-  bersabda yang artinya.

“Barang Siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aib orang tersebut di dunia dan akhirat.”

Kemudian di dalam hadits lain disebutkan yang artinya.

“Barangsiapa yang meringankan atau menghilangkan kesulitan seorang muslim dari kesulitan-kesulitan duniawi, maka Allah akan meringankan atau menghilangkan baginya kesulitan di akhirat kelak. Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang mengalami kesulitan di dunia, maka Allah akan memudahkan baginya kemudahan dalam urusan di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama ia menolong saudaranya.”

Hadits riwayat Tirmidzi.

Kemudian sahabat hijrah, keutamaan yang ketiga yaitu bahwa menutupi aib saudara seperti menghidupkan bayi yang dikubur hidup-hidup.

Hal ini sebagaimana disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud yang artinya.

“Siapa melihat aib orang lain lalu menutupinya, maka seakan-akan ia menghidupkan bayi yang dikubur hidup-hidup.”

Nah itulah sahabat tiga keutamaan dari menutup aib sesama muslim, semoga dengan mengetahuinya kita tidak mudah mengumbar keburukan-keburukan orang lain.

Sahabat, tentunya kita juga tidak ingin ketika aib atau dosa kita tersebar di antara kaum muslimin, maka dari itu, ketika kita tergoda untuk menyebarkan keburukan orang lain, pikirkanlah bagaimana rasanya jika kita di pihak yang dibicarakan dan digunjingkan orang lain, tentunya nggak mau kan?.

Lalu bagaimana dong jika kita melihat kemaksiatan yang dilakukan dan kita mengetahuinya?.

Seorang ulama yang dikenal dengan nama Syekh ‘Utsaimin mengatakan, jika seseorang melihat saudaranya melakukan kemaksiatan yang jelas, bila yang lebih utama menutupi aibnya, maka sepantasnya untuk menutupnya. Hanya saja jika aib itu menjadi kebiasaan yang buruk dari saudaranya, maka tidak mengapa untuk menasehatinya agar tidak melakukannya lagi.

Sahabat hijrah, Berkaitan dengan hal ini terdapat kisah Khalifah Umar  dengan lelaki tua yang kisahnya menarik untuk kita simak. begini kisahnya.

Suatu malam, seperti biasa Khalifah Umar berkeliling memeriksa rakyatnya, kali ini beliau ditemani Abdullah ibn Mas’ud. Pada tempat yang terpencil, mereka melihat kerlip dan sayup-sayup terdengar suara nyanyian.

Keduanya lalu berjalan menuju arah kerlip itu yang ternyata berasal dari sebuah rumah. Umar mengetuk rumah tersebut,,akan tetapi tidak ada seorang pun yang menjawab ketukan pintunya.

Umar  lantas memanjat ke atap rumah, dan melihat seorang lelaki tua sedang duduk santai dan di hadapannya terdapat cawan minuman keras. Selain itu ada seorang  wanita yang sedang bernyanyi di sampingnya.

Sang Khalifah menampakkan diri dan menghardik. “Belum pernah aku melihat pemandangan seburuk yang aku lihat malam ini!. Hai musuh Allah, apakah engkau mengira Allah akan menutup aibmu, padahal engkau berbuat maksiat?.”

Orang tua itu membela diri. “Tidak ada seorang muslim pun yang berhak berbicara dengan sesamanya dengan cara demikian, Mungkin aku telah berbuah salah, tetapi pikirkanlah berapa kesalahan yang telah engkau perbuat. Pertama, engkau telah mengintip, bukankah Allah memerintahkan, ‘Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, quran surat al-hujurat ayat 12.

Kemudian Kedua, engkau masuk melalui atap, bukankah Allah memerintahkan.‘Masuklah rumah-rumah dari pintu-pintunya. quran surat al-hujurat ayat 189.

Kemudian yang Ketiga, engkau masuk tanpa seizin pemiliknya dan mengabaikan salam, bukankah Allah telah memerintahkan. ‘Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya, quran surat an-nur ayat 27.

Mendengar jawaban tersebut, Khalifah Umar merasa sangat malu, dan mengundurkan diri seraya berkata, “Baiklah, aku memaafkan kesalahanmu.

Tapi lagi-lagi si lelaki tua itu berkata. “ini kesalahan yang keempat, bukankah yang memaafkan dosa itu Allah, bukan manusia sepertimu?.

Umar hanya menjawab, “Engkau benar!.” Lalu Umar pun pergi sambil menangis karena merasa bersalah.

Kemudian sahabat, Suatu hari, lelaki tua itu datang ke majlis Khalifah Umar. dia bersembunyi di barisan belakang dan berharap Umar tidak melihatnya.

Namun sayangnya, sang khalifah melihatnya dan memanggilnya,Kontan saja, orang tua itu berdiri dan berpikir bahwa khalifah akan mempermalukannya, pasti Khalifah akan mengumbar aibku, pikir lelaki tersebut.

Di luar dugaan, Khalifah Umar berkata padanya, “Dekatkan telingamu padaku!.” Lalu Khalifah Umar berbisik . “Demi yang telah mengutus Muhammad dengan hak sebagai Rasul, tidak seorang pun akan kuberi tahu apa yang telah kusaksikan pada dirimu,

“Ya Amirul Mukminin, dekatkan juga telingamu,” ujar orang tua itu, lalu giliran dia berbisik, “begitu juga saya, Demi yang mengutus Muhammad dengan hak sebagai Rasul, aku tidak pernah kembali pada perbuatan itu sampai aku datang ke majelis ini,

Mendengar itu, Khalifah Umar bertakbir dengan keras, “Allahu Akbar!”. Tentu saja, orang-orang yang hadir heran dan tidak mengetahui alasan Umar bertakbir.

Keduanya sama-sama menyembunyikan aib mereka berdua.

Nah sahabat hijrah, Seperti kisah tersebut, hendaknya kita selalu menjaga aib saudara kita, jangan mencari-cari kesalahannya, dan jika memang melihat dia bersalah, nasihatlah dengan cara baik dan bukan mempermalukannya.

Semoga bermanfaat.

Wassalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh.