Pembaca yang budiman dimana saja anda berada. Pada kesempatan yang lalu kita telah membahas, mengenai perjanjian damai yang dilakukan Nabi dengan kafir Quraisy, yang kita lihat dengan sekilas dalam surat tersebut terdapat beberapa kelicikan dari orang-orang Quraisy. Namun Nabi dengan penuh ketenangan tetap menyetujui perjanjian tersebut.

Pembaca yang budiman dimana saja anda berada. Ketika penulisan perjanjian ini sedang dilakukan, datang Abu Jandal bin Suhail dalam keadaan kaki diborgol, ia melarikan diri dari dataran rendah kota Makkah hingga tiba-tiba dia melemparkan dirinya ke tengah-tengah kaum Muslimin. Maka Suhail berkata, “Ini adalah kasus pertama yang aku perkarakan kepadamu untuk engkau kembalikan ke Mekkah.” Maka Nabi berkata, “Sesungguhnya kita belum lagi menuntaskan perjanjian ini.” Dia menjawab, “Demi Alloh, kalau begitu aku juga tidak jadi melakukan perjanjian denganmu selamanya.” Lalu Nabi berkata, “Relakanlah ia, demi aku.” Dia menjawab, “Aku tidak akan melakukannya.” Nabi berkata kembali, “Tolong, lakukanlah.” Dan ia tetap menjawab, “Aku tidak akan melakukannya.” Setelah itu Suhail ayahanda Abu Jandal memukul wajah Abu Jandal, kemudian memegangi kerah bajunya dan menyeretnya untuk mengembalikannya kepada kaum musyrikin. Abu Jandal berteriak-teriak dengan suara yang keras, “Wahai kaum Muslimin! Apakah kalian rela aku dikembalikan kepada orang-orang musyrik yang akan menggoda keislamanku? Maka Rosululloh berkata, “Wahai Abu Jandal, bersabarlah dan mohonlah pahala kepada Alloh, sesungguhnya Alloh akan memberikan kepadamu dan orang-orang lemah selainmu jalan keluarnya, karena kita telah membuat perjanjian damai dengan orang-orang musyrik dan telah memberikannya, demikian juga, mereka telah memberi kita janji Alloh. Karena itu, kita tidak akan mengkhianati mereka.”

Lalu Umar bin al-Khathab langsung melompat ke Abu Jandal dan berjalan di sampingnya seraya berkata, “Bersabarlah wahai Abu Jandal, sesungguhnya merekalah orang-orang musyrik, darah mereka tidak ubahnya seperti darah anjing.” Sambil mendekatkan panggal pedang kepadanya. Umar berkata, “Aku berharap dia mau mengambil pedang itu sehingga membunuh bapaknya sendiri, namun dia tidak mau melakukannya sehingga perjanjian itu pun terlaksana.”

Pembaca yang budiman dimana saja anda berada. Setelah Rosululloh menyelesaikan urusan perjanjian, beliau berkata, “Bangunlah kalian dan sembelihlah hewan korban kalian.” Ketika itu tidak ada satu pun di antara sahabat yang berdiri hingga beliau mengucapkannya tiga kali. Maka ketika tidak ada satu pun di antara mereka yang mau berdiri, beliau beranjak pergi menemui istri beliau Ummu Salamah dan menyebutkan sikap para shahabat terhadap beliau. Maka Ummu Salamah berkata, “Wahai Rosululloh, apakah engkau ingin melakukannya? Keluarlah, dan jangan berbicara dengan siapapun sampai engkau menyembelih hewan kurbanmu, lalu memanggil tukang cukur agar mencukurmu.” Maka beliau bergegas keluar dan tidak berbicara kepada siapa pun, beliau sembelih hewan kurbannya lalu memanggil tukang cukur. Ketika orang-orang melihat apa yang beliau lakukan. Mereka langsung bangkit dan menyembelih hewan kurban mereka, dan sebagian mencukur rambut sebagian yang lain. Bahkan sebagian mereka hampir saja mencelakakan sebagian yang lain akibat hanyut oleh perasaan sedih. Mereka menyembelih 1 ekor onta untuk 7 orang, begitu juga dengan sapi. Rosululloh menyembelih onta yang dulunya milik Abu Jahal yang di hidungnya terdapat sepotong perak. Hal ini, untuk membuat orang musyrik merasa muak melihat itu. Rosululloh juga mendoakan bagi yang mencukur habis rambutnya agar mereka mendapatkan ampunan sebanyak 3 kali, dan bagi yang memendekkan rambutnya sebanyak satu kali saja. Dalam perjalanan ini Alloh menurunkan wahyu-Nya yang berkenaan dengan aturan membayar fidyah Adza yaitu adanya gangguan atau penyakit di kepala bagi yang mencukur habis rambutnya dengan berpuasa, bersedekah atau melakukan ibadah terkait dengan kasus Ka’ab bin Ujrah.

Pembaca yang budiman, inilah genjatan senjata Hudaibiyyah. Yang pastinya dia tidak ragu lagi bahwa itu merupakan kemenangan yang paling besar bagi kaum Muslimin, karena orang-orang Quraisy belum pernah mengakui eksistensi kaum Muslimin sama sekali, bahkan ingin menumpas mereka sampai ke akar-akarnya dan selalu menanti hari di mana mereka bisa melihat riwayat kaum Muslimin itu berakhir. Mereka juga selalu berusaha dengan segala kekuatan yang dimiliki untuk membangun tembok pemisah antara perkembangan dakwah Islam dan ummat manusia, mengingat mereka adalah pencerminan dari kepemimpinan agama dan kekuasaan politik di Jazirah Arab. Karena itu, dengan sekedar condong kepada perjanjian damai, maka sudah merupakan sebuah pengakuan atas eksistensi kekuatan kaum Muslimin dan menunjukan bahwa kaum Quraisy tidak sanggup lagi melawan kekuatan mereka.

Kaum Muslimin sebetulnya merasa sedih dengan perjanjian perdamaian ini, kesedihan ini dikarenakan dua sebab: yaitu

Yang pertama: Karena Nabi telah memberitahukan kepada mereka untuk melaksanakan thawaf di Masjidil Haram, namun beliau kembali dan tidak jadi melaksanakan thawaf.

Dan Yang kedua: Sesungguhnya beliau adalah Rosululloh yang tentunya berada dalam kebenaran, dan Alloh telah menjanjikan kemenangan untuk agama ini, lalu kenapa Nabi menerima semua tekanan kaum Quraisy dan harus memberikan kehinaan dalam perjanjian gejatan senjata tersebut?

Kedua hal inilah yang menimbulkan berbagai keraguan, kebimbangan dan berbagai prasangka di kalangan kaum Muslimin serta membuat perasaan mereka menjadi sangat terluka, sehingga kegelisahan dan rasa sedih lebih mendominasi pikiran para shahabat Nabi . Dan barangkali yang paling terpukul adalah Umar bin al-Khathab , dimana dia menemui Rosululloh dan berkata, “Wahai Rosululloh, bukankah kita berada diatas kebenaran dan mereka di atas kebathilan?” Rosululloh menjawab, “Tentu.” Lalu Umar berkata, “Bukankah yang terbunuh dari pihak kita akan masuk surga sedangkan mereka masuk neraka?” Nabi menjawab, “Tentu” Lalu Umar berkata lagi, “Lalu kenapa kita mengalah dalam masalah agama kita dan kembali ke Madinah, sementara Alloh belum memberikan keputusan antara kita dan mereka?” Maka Nabi berkata, “Wahai Ibnu al-Khathab, sesungguhnya aku ini adalah Rosululloh dan aku tidak mendurhakai-Nya, Dialah Penolongku dan Dia tidak akan menyia-nyiakan aku selamanya.” Lalu Umar berkata, “Bukankah engkau pernah menjanjikan bahwa kita akan pergi ke sana dan berthawaf?” Nabi berkata, “Ya, lalu apakah aku menjanjikan bahwa kita pergi ke Masjidil Haram pada tahun ini juga?” Umar menjawab, “Tidak.” Lalu Rosululloh berkata, “Kamu pasti datang dan thawaf di sana nanti!”

Kemudian pembaca, Umar berangkat dengan sedikit kesal menemui Abu Bakar , lalu dia mengatakan kepadanya sebagaimana yang disampaikannya kepada Nabi dan Abu Bakar pun memberikan jawaban sebagaimana yang diberikan Nabi kepadanya dan menambahi, “Wahai Umar, berpegang teguhlah kepada perintah dan larangannya sampai engkau mati. Demi Alloh, sesungguhnya beliau berada dalam kebenaran.”

Kemudian turunlah wahyu Alloh kepada Rosululloh yaitu Al-Qur’an surat Al-Fath ayat yang 1, yang artinya:

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.”

Lalu Rosululloh mengutus seseorang kepada Umar, dan membacakan ayat tadi. Umar berkata, “Wahai Rosululloh, apakah itu benar-benar sebuah kemenangan?” Rosululloh menjawab, “Benar, wahai Umar.” Baru setelah itu dia merasa tenang dan segera kembali ke tempatnya lagi.

Setelah itu Umar merasa sangat menyesal atas segela tindakan dan sikapnya pada Nabi . Umar berkata, “Sejak saat itu saya puasa, shalat, memerdekakan budak, dengan harapan bisa menebus semua yang telah saya lakukan saat itu, karena aku merasa begitu ketakutan terhadap apa yang telah aku katakan, sampai-sampai berharap semoga semua yang aku lakukan itu merupakan suatu kebaikan.”

Demikianlah pembaca yang budiman. Semoga bermanfaat..

Wallohu a’lam..

Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh..