Kepala Badan Akreditasi Halal atau HAK di Turki, Zafer Soylu mengatakan, permintaan negara-negara non-Muslim untuk produk halal meningkat dengan adanya pandemi Covid-19. Hal ini sebagaimana dilansir dari laman Daily Sabah pada Senin kemarin.

Soylu mengatakan, saat ini sertifikasi halal digunakan tidak hanya di bidang yang terkait dengan makanan, tetapi juga di sektor jasa. Standar halal Turki didasarkan pada 16 pedoman yang diterbitkan oleh Organisasi Standar Korporasi Islam.

Soylu mengatakan, mereka melihat peningkatan minat pada standar halal oleh negara-negara non-Muslim dan populasi mereka.

Soylu melanjutkan, bahwa sistem internasional harus dibentuk untuk mengakui sertifikat halal, yang dikeluarkan sesuai dengan 16 standar yang telah ditentukan oleh lembaga halal.

Dia mengatakan, banyak eksportir makanan mendapatkan sertifikat halal yang berbeda untuk negara yang berbeda, dan biayanya sangat tinggi.

Adapun pasar halal global saat ini mencapai sekitar tujuh dolar triliun. Bidang ini mencakup banyak sektor seperti kosmetik, produk kimia dan pembersih, produk pertanian, makanan, energi, pariwisata, dan keuangan. (republika.co.id/admin)