Assalamu ‘alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh,

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلاَةُ والسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى ألِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ أمّا بَعْدُ

Pembaca yang budiman dimana saja Anda berada. Senang sekali kita bisa berjumpa kembali di dalam rubrik Tarbiyatul Aulad, rubrik yang membahas seputar pembelajaran bagi anak-anak Islami, agar menjadi generasi umat Islami yang unggul dan berprestasi di dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya. Pada kesempatan kali ini, kita akan kembali melanjutkan pembahasan mengenai “Tanggung jawab orang tua”.

Pembaca. Pada edisi yang lalu sudah dijelaskan mengenai pelajaran penting Lukman kepada anaknya, yang diabadikan di dalam Qur’an Surat Luqman ayat 13 sampai 19. Demikianlah pelajaran penting dari Luqmân kepada anaknya, intisari dari pelajaran Luqmân tersebut adalah pendidikan penting bagi masa depan anaknya, terutama masa depan ukhrawi.

Adapun kelanjutannya.…

Pembaca. Secara ringkas, ada beberapa intisari dari pelajaran dalam Surah Luqmân tersebut, yaitu,

Yang pertama. Disyari’atkannya agar orang tua memberikan pendidikan dan wasiat kepada anak-anaknya tentang apa yang dapat memberikan manfaat di dunia dan di akhirat.

Yang kedua. Wasiat itu harus dimulai dari persoalan tauhid dan peringatan dari syirik, karena syirik merupakan kezholiman serta ketidak-adilan yang akan menghapuskan semua amal.

Kemudian yang ketiga. Tentang wajibnya bersyukur kepada Alloh , bersyukur kepada kedua orang tua, dan tentang wajibnya berbuat kebaikan kepada kedua orang tua.

Selanjutnya yang keempat. Tentang tidak boleh ta’at kepada siapapun jika perintahnya merupakan kemaksiatan kepada Alloh . Keta’atan hanyalah dalam hal yang bukan maksiat.

Yang kelima. Tentang wajibnya mengikuti jalan kaum Mu’minin yang bertauhid, serta haramnya mengikuti jalan orang-orang yang menyimpang dari tauhid yang benar.

Yang keenam. Wajibnya merasa selalu diawasi oleh Alloh , baik dalam keadaan tertutup atau terbuka. Dan tidak boleh meremehkan urusan kebaikan atau keburukan meskipun kecil atau sedikit.

Selanjutnya, yang ketujuh. Wajibnya mendirikan sholat secara benar sesuai dengan rukun dan syarat-syaratnya, dan harus thuma’nînah di dalamnya.

Yang kedelapan. Wajibnya melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar dengan lemah lembut sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan.

Yang kesembilan. Tentang keharusan bersabar dalam menghadapi tantangan ketika melaksanakan amar ma’ruf  nahi mungkar.

Yang kesepuluh. Tentang haramnya sombong dan haramnya congkak ketika berjalan.

Yang kesebelas. Tentang sikap sederhana dan sedang ketika berjalan, tidak lamban dan tidak terlalu cepat.

Dan yang keduabelas. Tidak meninggikan suara melebihi kebutuhan, sebab bersuara keras di luar kebutuhan merupakan kebiasaan keledai.

Pembaca. Sesungguhnya, upaya mengarahkan anak menjadi anak shaleh yang beribadah hanya kepada Alloh dan meninggalkan serta membenci kemusyrikan, akan dapat dilakukan melalui proses tarbiyah atau pendidikan. Tarbiyah merupakan salah satu segi kehidupan manusia yang terpenting.

Murabbi atau pendidik sebenarnya hanyalah Alloh semata, tiada sekutu baginya dalam Rububiyah. Dia adalah Robb yang mentarbiyah seluruh alam semesta. Selanjutnya yang paling berhak untuk diikuti tarbiyahnya sesudah Alloh adalah para Rosul-Nya, yakni orang-orang yang telah dipilih oleh Alloh dan telah ditarbiyah langsung oleh-Nya dengan Kitab dan Hikmah,

sebagaimana telah ditarbiyah langsung dengan segala ni’mat dan karunia-Nya. Kemudian, tarbiyah yang berhak diikuti sesudahnya lagi adalah tarbiyah para pewaris Nabi, yakni orang yang yang mendapatkan tarbiyah langsung dari tangan para Nabi dan dibina dengan makanan ilmu serta akhlak para Nabi. Sesudah itu berlangsunglah secara bersambung pola tarbiyah ini pada generasi berikut yang diambil dari generasi sebelumnya. Orang yang paling banyak dapat menyerap pola tarbiyah keNabian ajaran Alloh ini adalah orang yang paling banyak ittiba’ terhadapnya, baik keilmuannya, pengamalannya maupun da’wahnya.

Lebih jelasnya, tarbiyah atau pendidikan yang benar dilaksanakan agar dapat membentuk pribadi yang beribadah hanya kepada Alloh , dan tentunya harus bertumpu pada aturan tarbiyah Alloh . Sebab Dia-lah Murabbi sebenarnya. Berarti pula harus berwujud pengarahan terhadap umat secara umum, dan terhadap anak-anak secara khusus, untuk senantiasa mengikuti petunjuk Alloh .

Imam Ibnul-Qoyyim menjelaskan makna mengikuti petunjuk Alloh yang dapat menghasilkan kebahagiaan, hilangnya rasa takut di akhirat dan hilangnya kesedihan karena tidak mengalami bencana di akhirat, yaitu,

Yang pertama. Meyakini segala berita yang datang Alloh tanpa terkendala oleh sesuatu syubhatpun yang dapat mengotori keyakinannya.

Dan yang kedua. Melaksanakan segala perintah-Nya tanpa terkendala oleh sesuatu syahwatpun hingga dapat menghalangi pelaksanaan perintah.

Pada dua hal inilah keimanan berporos, yaitu meyakini berita dan mentaati perintah. Dua hal ini diikuti oleh dua hal lain, yaitu. mengenyahkan syubhat-syubhat batil yang menyusup serta menghambat utuhnya keyakinan, dan mengenyahkan syahwat-syahwat menyimpang yang menghambat utuhnya pengamalan terhadap perintah.

Pembaca yang budiman. Demikianlah pembahasan kita pada edisi kali ini, insya Alloh kita akan kembali melanjutkan pembahasan ini pada edisi yang akan datang. Mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran dan hikmahnya. Semoga Alloh memudahkan kita dalam mendidik anak-anak kita. Aamiin. Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.

Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh.